"2012: Ingin menjadi perempuan yang tangguh. Jauh lebih tangguh dari sebelumnya!"
(Status Facebook saya, 2 Januari 2012)
***
(Status Facebook saya, 2 Januari 2012)
***
Setelah begadang semalaman dan berhasil menyelesaikan tugas sampai subuh tadi pagi, di hari minggu ini akhirnya saya bisa menulis lagi di sini! Ini jadi semacam reward untuk saya karena sesungguhnya banyak hal yang ingin sekali diluapkan. Karena katanya "menulis itu menyembuhkan," tulisan ini mungkin menjadi akan jadi berbaris-baris keluhan yang melegakan untuk saya. Jadi, mohon maaf untuk yang kurang berkenan :)
Kusut
Kemarin, ada beberapa hal yang membuat saya termenung sejenak seusai menunaikan shalat Maghrib, sesaat setelah saya sampai di rumah dengan semangat minus sekian. Sambutan hangat yang selalu ditunjukkan Ibu dan Bapak kalau saya pulang ke rumah, kemarin malam, harus berubah menjadi raut khawatir. "Capek ya, sayang atau belum makan?" Kata Bapak saya. Iya, siapapun pasti bisa menebak kalau mood saya sedang jelek seharian itu, entah karena apa. Saya cuma bisa mengangguk sambil izin berlalu ke kamar untuk sholat.
Saat itu saya menyadari betul kalau saya sama sekali bukan perempuan yang tangguh, seperti harapan yang pernah saya tuliskan dalam status FB saya. Malam itu akhirnya apa yang tertahan tumpah juga. Ibu saya yang paling tahu apa yang terjadi dengan saya kalau sudah seperti itu. Bukan lelah yang membuat saya menangis, tapi perasaan menyesal karena selalu membuang "sampah" masalah saya ke rumah. Menyesal karena harus pulang dengan keceriaan yang ditinggal rapi di kampus atau kosan. Saya selalu bisa tersenyum bahkan tertawa lepas dengan teman-teman saya, mengapa harus membagi lelah dan sedih dengan orang-orang rumah? Jawabannya mungkin karena saya butuh tempat untuk melepas segalanya dan tempat itu adalah rumah.
Ternyata, teman-teman saya juga menyadarinya. Dimulai dari emosi negatif yang muncul saat rapat dengan koordinator fakultas usai raker. Penyampaian materi yang tidak runut. Celetukan Kurnia saat berjalan menuju Balairung, "Ya ampun, kak. Kusut banget sih mukanya daritadi." Saya sih cuma bisa bilang, "Hah? Emang iya?" dengan muka kaget sambil kucek-kucek mata. Bahkan, malamnya, Jean sms saya menanyakan, "lagi banyak pikiran ya, kak? Pasti lagi nggak fokus sampe botol minumnya ilang." Ternyata memang segitunya ya.
Kalau kayak gini, apanya yang tangguh? #selftalk. Mohon maaf kalau ada yang tersinggung atau terganggu karena kelabilan tidak beralasan itu.
Dukungan, Kepercayaan, Diri Sendiri
Beberapa hari yang lalu, saya mengobrol panjang lebar dengan seorang teman saya di Takor hanya untuk curhat. Saya menumpahkannya di sana, bersama seorang teman yang menurut saya lebih cocok jadi seorang calon psikolog, dibandingkan ahli hukum. Obrolan itu seperti biasa membuat saya berpikir. Ia memberikan opsi-opsi yang saling bertentangan. Ya, pada akhirnya saya sendiri yang harus memilih untuk tetap melakukannya atau bahkan menyerah dan memilih untuk melepaskan sesuatu yang lebih besar itu. Katanya, "Jadi diri lo sendiri aja, Ning..."
Lalu, saya ingat banyak orang yang bersemangat. Satu orang perempuan menginspirasi, seperti tak pernah kehabisan bahan bakar untuk bergerak. Seorang perempuan tangguh yang sesungguhnya. Saya ingin bisa setangguh itu--yang meski harus menangis, tapi bisa menyeka air matanya sendiri. Saya ingin menang dari diri sendiri.
Kemudian hal ini terus bergerak secara dinamis dan terakhir yang harus saya lakukan adalah percaya pada diri sendiri dan orang lain. Sesederhana itu.
Tentang mereka yang mencari, bukan menemukan
Ini kisah lain. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan setelah perjalanan 4 tahun, jeda 2 tahun dan berlanjut di perjalanan 1,5 tahun berikutnya. Dalam satu bulan ini, saya menemukan orang-orang yang seperti itu--mereka yang mencari, bukan yang menemukan. Mereka yang menebar jaring, bukan yang membidik. Mereka yang bertemu dan membuat orang bertanya-tanya tentang makna "kesungguhan."
Salah satu uji coba ketangguhan. Ketika rasa lelah itu datang, kemudian kesendirian menyeruak... Tentu saja keinginan itu ada. Tentu saja passion itu pernah sesekali menggelora. Bertemu dengan orang-orang seperti yang saya ceritakan di atas membuat saya semakin bisa bersabar.
Pada akhirnya, saya tahu semua itu merupakan awal dari sebuah perjalanan di tahun ini. Iya, mungkin ini ujian-ujian yang harus dilewati untuk menjadi seseorang yang tangguh, yang tidak mudah menangis, dan yang mampu berdiri sendiri ketika jatuh. It's just another lesson to learn, right? :)
"Do not be weak, neither sorrow while you are the upper ones, if you are believers."
(QS. Ali 'Imran: 139)Matraman, 19 Februari 2012
DWS

http://www.youtube.com/watch?v=UmPeSCYWOvs&feature=related
ReplyDeleteThanks :')
Delete